Indahnya LDK Dengan Mengetahui Kewajiban Sebagai Pemimpin dan yang di Pimpin

 

Awal tahun 2011 saya masuk dalam divisi mentoring departemen Kaderisasi. Ketika itu, saya menjadi pemimpin untuk mengatur divisi mentoring kampus dengan di bantu rekan saya. Dalam menjalankan program kerja (proker) mentoring tentu tidak bisa hanya 2 orang, oleh karena itu Rapat Internal (Rapin) selalu di lakukan secara bersama-sama dengan divisi Data base, Diklat dan Koordinator kaderisasi.

Ketika awal kepengurusan saat itu tidak bisa berjalan dengan lancar, dikarenakan Koordinator nya kala itu sedang skripsi yang mewajibkan dirinya untuk riset selama 3 bulan di kampungnya. Jadi secara tidak langsung pihak pemimpin per divisi harus bisa menangani divisinya masing-masing tanpa panduan resmi dari koordinator. Cukup banyak masalah internal yang muncul, dari pihak ikhwan yang tidak bisa mentolerir keterlambatan, jika ada yang terlamba,t maka ia akan langsung pulang. Namun hal ini yang terdengar olehku dari pengakuan kader lain, yang telah lama berada di Kaderisasi. Dari hasil Rapin beberapa kali memang ada sikap keras dari masing-masing divisi dan protes pihak ihkwan atas tanggung jawab koordinator yang tidak terealisasi dari awal pengurusan selama 3 bulan. Kami para akhwat memaklumi hal ini, karena terus terang saja internal yang terganggu, akan berakibat tidak baik dan juga untuk eksternal terutama dalam menjalankan proker yang telah ditetapkan. Namun tentunya semua yang telah di planningkan harus tetap berjalan, sembari menunggu koordinator bisa kembali bergabung.

Selain itu yang tidak kalah berpengaruhnya adalah interaksi bersama akhwat senior yang telah lebih dahulu terjun dalam dakwah kampus. Sering berkumpul, maka banyak juga informasi yang saya dapatkan tentang senior-senior yang lain baik itu ikhwan dan akhwat. Seiring informasi ini saya terima, maka terbentuklah gambaran tentang personal masing-masing dalam pikiran saya. Terus terang ini menjadi sedikit masalah bagi saya.

Terlepas dari hal tersebut, setelah 3 bulan berlalu akhirnya koordinator bisa bergabung dengan kami. Selama 2 bulan setelahnya kegiatan Kaderisasi bisa berjalan lancar. Namun hal ini tidak berlangsung lama karena ternyata Koordinator di wisuda, hal ini berarti statusnya sebagai Mahasiswa sudah berakhir, dan ini yang membuat saya yang di amanahkan oleh ADKP yang menangani kaderisasi kampus IAIN dan menunjuk saya sebagai pengganti  Koordinator yang lama. Tetapi hal ini tidak tersosialisasi dengan baik dengan seluruh staff. Para staff bahkan terkejut bahwa saya yang menjadi pengganti Koordinator yang lama. Walaupun sedikit terkejut dengan reaksi yang kurang bersahabat dari ikhwah yang lain, segala sesuatu harus tetap berjalan dengan baik. Saya dan staff melanjutkan proker yang memang telah di rencanakan. Dalam pelaksanaan proker ini lah mulai terjadi masalah.

Sebelumnya saya telah mendapatkan gambaran karakter dari senior tentang para ikhwah senior termasuk ketua LDK Al-uswah kala itu. Karena terlalu fokus bahwa proker ini harus berjalan, saya melalaikan satu hal yaitu mengkomunikasikan dengan Ketua LDK. Sehingga terjadi konflik antara saya dan Ketua LDK dengan tidak tahu nya ia akan kegiatan yang akan terlaksana. Saya berpikir hal tersebut tidaklah begitu penting, yang terpenting kegiatan yang di rencanakan bisa berjalan. Namun ternyata tidak seperti itu, sepertinya saya terlalu meremehkan hal tersebut. Saya lupa bahwa ada adab yang harus saya penuhi sebagai yang di pimpin terhadap pemimpin. Inilah yang terlalaikan, astaghfirullah.

Sebuah pelajaran penting untuk tidak menyepelekan hal kecil yang bisa berdampak besar nantinya. Sebenarnya apa sih kewajiban kita sebagai yang di pimpin terhadap pemimpin Muslim? Pertama yaitu mentaati pemimpin dalam perkara yang makruf, Allah ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-Nisa’: 59)

Adapun dari hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat (terhadap pemimpin) pada apa-apa yang dicintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan maka tidak boleh mendengar dan taat” (Muttafaq ‘alahi) 

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: “Allah memerintahkan kaum muslimin utuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hal itu dilakukan dengan cara melaksanakan perintahnya dan dan menjauhi larangannya. Dan Allah memerintahkan untuk taat kepada ulil amri, mereka adalah para pemimpin dari kalangan amir, hakim dan mufti. Sesungguhnya tidak akan berjalan perkara agama dan dunia kecuali dengan menaati dan tunduk kepadanya dalam rangka mentaati perintah Allah dan mengharap ganjaran di sisi-Nya, akan tetapi dengan syarat tidak dalam bermaksiat kepada Allah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barangsiapa yang menaatiku maka ia telah taat kepada Allah, barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka ia telah bermaksiat kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada pemimpinku maka ia telah taat kepadaku dan barangsiapa yang bermaksiat kepada pemimpinku maka ia telah bermaksiat kepadaku”. (HR. Bukhari).

            Kedua yaitu mentaati pemimpin baik yang shalih maupun yang zhalim, Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, dahulu kita berada dalam keburukan kemudian Allah datang memberikan kebaikan dan kita berada di atasnya apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan lagi? Rasulullah menjawab: “Ya”. Kemudian Hudzaifah berkata: “Apakah setelah keburukan akan ada kebaikan? Rasulullah menjawab: “Ya,” Kemudian hudzaifah bertanya: “Apakah setelah kebaikan akan ada keburukan? Rasulullah menjawab: “Ya,” Kemudian hudzaifah bertanya kembali: “Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Rasulullah bersabda: “Akan datang setelahku, pemimpin-pemimpin yang yang tidak mengambil petunjukku, mengambil sunnah bukan dari sunnahku. Dan akan ada orang-orang yang hati mereka seperti hati syaithon dalam tubuh manusia. Lalu aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika keadaaan tersebut menjumpaiku?” Rasulullah menjawab: “Dengar dan taatilah pemimpin, walaupun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, dengarkan dan taati! (HR. Muslim)

            Ketiga yaitu tidak melakukan demonstrasi, pemberontakan, kudeta atau keluar dari ketaatan mereka, Para imam ahlus sunnah wal jamaah tidak pernah memerintahkan kaum muslimin untuk mendemostrasi, mengumbar kejelekan pemimpin di muka umum, baik di media massa maupun di media elektronik, apalagi melakukan pemberontakan, mengangkat senjata dan keluar dari ketaatan pemimpin. Ahlus sunnah wal jamaah mengambil teladan dari para salafush shalih. Lihatlah bagaimana sikap para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum ketika dipimpin oleh pemimpin yang kejam lagi bengis, yaitu Hajjaj bin Yusuf. Tidak ada satupun dari sahabat mendemonstrasi, memberontak apalagi menggulingkan Hajjaj bin Yusuf. Pada saat itu ia pemimpin yang banyak membunuh ulama-ulama yang hidup sezaman dengannya.

            Keempat yaitu wajib atas seorang muslim bersabar ketika di pimpin oleh pemimpin yang zhalim, “Barangsiapa yang meilhat sesuatu yang dibencinya dari pemimpinnya maka bersabarlah. Sesungguhnya barangsiapa yang keluar dari jamaah sejengkal saja kemudian ia meninggal maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah”. (Muttafaq ‘alaihi)

Al-Imam Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata dalam kitabnya yang berjudul Syarah al-‘Aqidah ath-Thahhawiyyah: “Hukum taat kepada pemimpin adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan). Karena keluar dari ketaatan mereka akan berdampak kepada kerusakan yang lebih besar daripada kezhaliman pengusa tersebut. Bahkan apabila mereka bersabar maka hal tersebut menjadi penghapus keburukan dan dapat melipatkan ganjaran (pahala).

Ketahuilah bahwasanya Allah tidak menimpakan kepada suatu kaum berupa pemimpin yang zholim melainkan balasan atas perbuatan buruk kaum muslimin tersebut. Seperti yang dikatakan al-jazaa’ min jinsil ‘amal yaitu balasan sesuai dengan perbuatan. Maka hendaklah kita bersungguh-sungguh untuk banyak beristighfar, bertaubat dan memperbaiki amal-amal”.

Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala: “Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS.asy-Syura: 30)

            Kelima yaitu menasehati mereka dengan sembunyi-sembunyi tidak di depan umum, Di antara prinsip ahlus sunnah wal jamaah adalah menasehati para pemimpin tidak secara frontal dengan membeberkan aib mereka di muka umum. Dari sini terdapat mashlahat yang sangat besar sehingga terjagalah kehormatan dan kewibawaan pemimpin di mata rakyatnya.

            Keenam yaitu berdoa kepada pemimpin-pemimpin kaum muslimin, Ketika kita di uji dengan mendapat pemimpin yang zhalim, ketidakadilan, semena-mena, maka hendaknya kita berdo’a agar allah memperbaiki urusan kita kaum muslimin keseluruhan. Karena baiknya urusan negeri akan berdampak baik terhadap penduduknya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama ahlus sunnah wal jamaah ketika mereka dipimpin oleh pemimpin yang zhalim. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Sekiranya aku mempunyai sebuah doa baik yang pasti dikabulkan, maka akan aku tujukan untuk para pemimpin. Ia ditanya, “Wahai Abu ‘Ali (kunyah Fudhail bin Iyadh), jelaskan maksud ucapan tersebut? Beliau menjawab: “Apabila doa itu hanya ditujukan kepada diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata pemimpin berubah menjadi baik maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya.”

Untuk seorang pemimimpin selayaknya (dikutip dari majalah Hidayatullah), pertama, Berpegang pada Hukum Allah,  Ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin.Allah berfirman,”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (al-Maaidah:49). Jika ia meninggalkan hukum Allah, maka seharusnya dicopot dari jabatannya.

Kedua yaitu Memutuskan Perkara Dengan Adil, Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.” (Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).

Ketiga yaitu Tidak Menutup Diri Saat Diperlukan Rakyat, Hendaklah selalu membuka pintu untuk setiap pengaduan dan permasalahan rakyat.Rasulullah bersabda, ”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).

Keempat yaitu Menasehati yang di pimpin, Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”

kelima yaitu Tidak Menerima Hadiah, seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti mempunyai maksud tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil hati.Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah dari rakyatnya.Rasulullah bersabda,” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat Thabrani).

Keenam yaitu Mencari Pemimpin yang Baik, Rasulullah bersabda,”Tidaklah Allah mengutus seorang nabi atau menjadikan seorang khalifah kecuali ada bersama mereka itu golongan pejabat (pembantu).Yaitu pejabat yang menyuruh kepada kebaikan dan mendorongnya kesana, dan pejabat yang menyuruh kepada kemungkaran dan mendorongnya ke sana.Maka orang yang terjaga adalah orang yang dijaga oleh Allah,” (Riwayat Bukhari dari Abu said Radhiyallahu’anhu).

Ketujuh yaitu Lemah Lembut, Doa Rasullullah,’ Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya.

Kedelapan yaitu Tidak Meragukan dan Memata-matai Rakyat, Rasulullah bersabda,” Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim).

Semoga pengetahuan yang sedikit ini bisa lebih mempererat Ukhuwah LDK kedepannya. Kita mengetahui apa sebenarnya kewajiban kita sebagai pemimpin dan mengetahui pula kewajiban kita ketika menjadi yang dipimpin. Agar dakwah di IAIN STS Jambi lebih indah lagi dengan di dasari ilmu tentang bagian-bagian dari dakwah, wallahu’alam.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s